13 AGUSTUS 2009 - SERENTAK DI BIOSKOP-BIOSKOP SELURUH INDONESIA
Film "Merah-Putih" Bergaya Hollywood "Blockbuster"
kompas..com — Seorang pengusaha yang tercatat sebagai orang terkaya ke-10 di Indonesia versi salah satu majalah terkenal, Hasyim Djojohadikusumo, mengklaim film berjudul Merah-Putih merupakan film layar lebar pertama bergenre perang tentang kemerdekaan Indonesia dengan produksi bergaya Hollywood blockbuster.
Tak tanggung-tanggung, adik calon wakil presiden Prabowo Subianto tersebut merogoh "kocek" sekitar 6 juta dolar AS atau setara dengan Rp 60 miliar untuk seluruh produksi film trilogi (tiga episode) termasuk juga kegiatan promosi ke sejumlah negara di luar negeri.
Awalnya Hasyim memiliki gagasan untuk memproduksi film dengan alasan karena dua pamannya yang bertugas sebagai anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI), Lettu RM Subianto Djojohadikusumo dan Kadet RM Sujono Djojohadikusumo gugur di medan perang Lengkong, Bandung, Jawa Barat, pada tahun 1946.
"Dua paman kami yang gugur di medan perang menjadi sumber inspirasi untuk membuat film layar lebar bergenre perang tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia," kata Hasyim di Jakarta, Senin.
Selain itu, hal yang melatarbelakangi pembuatan film trilogi Merah-Putih tersebut, menurut Hashim, kecenderungan generasi muda yang banyak melupakan tentang proses dan arti perjuangan para pahlawan di Tanah Air saat merebut kemerdekaan bangsa Indonesia.
Selanjutnya, Hasyim melalui PT Media Desa bersama Margate House merencanakan pembuatan film tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia sekitar dua tahun lalu.
Hasyim yang berperan sebagai produser eksekutif memercayakan Conor Allyn, Rob Allyn, dan Jeremy Stewart sebagai ahli perfilman dunia untuk mengubah ide tersebut menjadi naskah dan skenario sebuah film yang berkualitas.
Sedangkan posisi sutradara dipercayakan kepada Yadi Sugandi yang sebelumnya menangani penata gambar dan pembuatan salah terbaik film terbaik di Indonesia, yakni Laskar Pelangi, dibantu Sastha Sunu sebagai penyunting gambar dan Iri Supit (pengatur artistik dan desain produksi).
Conor Allyn dkk membutuhkan waktu sekitar satu tahun untuk proses pencarian ide hingga penulisan skenario, lalu sutradara Yadi Sugandi melakukan casting untuk para aktor dan aktrisnya yang terlibat pada film yang memiliki durasi sekitar satu menit 20 menit hingga satu menit 30 menit tersebut.
Yadi berhasil menggaet Lukman Sardi, Doni Alamsyah, Darius Sinathrya, Zumi Zola, T Rifnu Wikana, aktris pendatang baru Rahayu Saraswati, dan Astri Nurdin.
Penulis naskah dan produser film Merah-Putih, Conor Allyn, menjelaskan, memilih Lukman Sardi dan Doni Alamsyah sebagai pemeran utama karena pertimbangan paras mukanya yang mewakili ciri khas masyarakat Indonesia.
"Tentu alasan lainnya karena memiliki kemampuan akting yang sangat bagus," kata Conor.
Disinggung biaya produksi dan promosi film yang tidak sedikit, Hasyim menegaskan, kucuran dana sekitar Rp 60 miliar bukan masalah karena karya seni visual tersebut dipersembahkan bagi masyarakat Indonesia untuk mengingat kembali semangat perjuangan para pahlawan tanpa pamrih untuk merebut, kemudian mempertahankan tahta kemerdekaan bangsa Indonesia.
"Biaya sebesar itu tidak ada artinya bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia yang banyak mengorbankan harta, nyawa, dan jiwa," ujarnya.
Pengusaha tersebut menuturkan, dirinya memutuskan secara total untuk memproduksi sebuah karya film yang membawa nama citra Indonesia sehingga tidak memikirkan hitung-hitungan biaya yang dikeluarkan karena rencana awalnya akan mempromosikan film Merah-Putih ke sejumlah negara di kawasan Asia, Australia, Perancis, Inggris, Belanda, dan Amerika.
Sementara itu, Conor mengungkapkan, proses pembuatan karya film yang bertaraf internasional memang membutuhkan biaya yang tidak sedikit, terlebih teknik produksi filmnya yang berstandar Hollywood harus menyediakan anggaran banyak, di samping masa proses produksinya juga cukup lama.
Sementara itu, Sutradara Yadi Sugandi mengatakan, produksi film tentang perjuangan rakyat Indonesia masa 1945 hingga 1948 itu membutuhkan peralatan seperti kamera hingga mencapai tujuh unit, jumlah personel sebanyak 300 orang, dan fasilitas pendukung lainnya yang canggih dengan trik adegan yang sangat membahayakan, contohnya ledakan bom berbahan asli standar TNI.
"Kami juga melibatkan anggota TNI untuk melatih pemain film yang terlibat untuk memahami teknik menggunakan senjata, cara menghindari ledakan bom, dan adegan berbahaya lainnya, selama tiga minggu," kata Yadi.
Ulasan cerita film
Merah-Putih bagian pertama dari Trilogi Kemerdekaan, film fiksi berlatar belakang sejarah tentang bukti nyata perjuangan Indonesia untuk kemerdekaan pada tahun 1947 ketika agresi militer Belanda sedang merajalela pimpinan Van Mook.
Pasukan Belanda di bawah komando Van Mook menyerang jantung masyarakat di daerah Jawa Tengah, tetapi muncul sekelompok pejuang dari Tanah Air yang berani mengorbankan jiwa dan raganya untuk bersatu mengusir dan merebut tahta kemerdekaan Indonesia.
Para pejuang Indonesia itu bersatu padu untuk bertahan dari serangan agresor Belanda dengan cara bergerilya. Mereka mengesampingkan konflik pribadi yang tajam dan perbedaan besar dalam kelas sosial, suku, daerah asal, agama, dan kepribadian.
Penulis naskah sengaja menyuguhkan cerita yang mengombinasikan drama, action, humor, kisah cinta, tragedi kemanusiaan, cerita kehidupan pribadi hingga komedi, tetapi tetap memunculkan semangat perjuangan.
Pada 1947, Amir yang diperankan Lukman Sardi adalah seorang pemeluk Islam asal Jawa Tengah yang memiliki kepribadian halus karena berlatar belakang sebagai guru, sedangkan Thomas (Doni Alamsyah) yang berasal Manado, seorang penganut Kristen dari anak seorang kuli peternak ayam, memiliki watak emosional dan pembalas dendam karena punya pengalaman buruk tentang keluarganya yang dibunuh di Sulawesi.
Sementara itu, Dayan (Darius Sinathrya) merupakan seorang pemeluk Hindu asal Bali, yang tangkas menggunakan pisau, tetapi tidak bisa membagi rahasia hidupnya. Serta Marinus (T Rifnu Wikana) digambarkan sebagai anak yang pengecut dan bersahabat dengan Soerono (Astri Nurdin) sebagai orang terkenal dari kalangan keluarga yang kaya.
Kesemuanya mendaftarkan diri ke sekolah tentara rakyat dengan latar belakang perbedaan yang mencolok mulai dari budaya, suku, tingkat sosial hingga agama, maka sering muncul konflik internal di tengah masa pendidikannya.
Namun, sebelum mengakhiri masa pendidikannya, dunia keprajuritan tersebut porak-poranda karena Belanda melakukan serangan terhadap tempat sekolah tentara rakyat Indonesia tersebut.
Agresi militer Belanda cukup keras, bahkan pasukan yang dipimpin Jenderal Van Mook (Rudi Wowor) tersebut tidak segan membunuh warga pribumi yang tidak berdosa.
Pada akhirnya calon prajurit tentara tersebut harus mengesampingkan urusan pribadinya guna bergabung dengan pasukan pemberontak (Sudirman) dan memberikan perlawanan terhadap agresi pribumi di pegunungan dan hutan di Jawa Tengah.
Yudi mengungkapkan, teknik adegan akting yang ditampilkan terlihat nyata karena pihaknya menggandeng koordinator special effect dari Inggris, Adam Howart, koordinator pemeran pengganti (Rocky Mc Donald), make up, dan visual effect artis (Rob Trenton), ahli persenjataan (John Bowning). dan Asisten Sutradara (Mark Knight).
Tidak ada unsur politik
Hasyim menegaskan, pembuatan film Merah-Putih tidak ada unsur politik meskipun dirinya sebagai adik kandung Prabowo Subianto yang mencalonkan diri menjadi wakil presiden berpasangan dengan calon presiden (capres) Megawati Soekarnoputri pada Pemilu Presiden (Pilpres) 9 Juli 2009.
"Pembuatan film ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan politik, namun hanya menjadi nilai tambah sejarah Indonesia," ujarnya seraya menambahkan ide dan persiapan pembuatan film sudah berlangsung sejak dua tahun lalu sehingga tidak mungkin ada unsur politiknya.
Jawaban Hasyim tersebut merupakan bantahan dari tudingan sejumlah pelaku perfilman di Indonesia, yang menduga pembuatan film tentang perjuangan merebut kemerdekaan bangsa Indonesia itu, didukung salah satu partai politik yang akan bersaing pada Pilpres 2009.
Hasyim mengungkapkan, pembuatan film Merah-Putih hanya untuk berbagi dengan masyarakat Indonesia dalam merayakan Hari Kemerdekaan ke-64 Indonesia yang akan jatuh pada 17 Agustus 2009.
"Film ini dipersembahkan sebagai kado pada Hari Kemerdekaan Indonesia," ungkapnya.
Penayangan perdana film yang mengambil lokasi syuting di Bandung dan Depok (Jawa Barat), Yogyakarta, serta Jawa Tengah, tersebut akan digelar secara serentak di seluruh jaringan bioskop 21 dan Blitzmegaplex pada 13 Agustus 2009.
Link di 21:
http://21cineplex.com/merah-putih,movie,2124.htm



:ilov eindonesia

