Belum register?
 
TOTAL POSTS:
107,710,867
TOTAL MEMBERS:
1,218,220-01
 
Hot Categories: Lounge | Berita & Politik | Computer | Jokes | Movies | Supranatural | Sports | Games | Otomotif | Music | more categories

 
HOME / CASCISCUS / THE LOUNGE
Adolf hitler bersembunyi di Sumbawa, Indonesia?
 

Reply Short URL: http://kask.us/2489813 | Share on twitter
Share
Thread Tools
Unread 28-09-2009, 12:38 PM   #1
binyomilan2002
kaskus addict
 
binyomilan2002's Avatar
 
UserID: 539880
Join Date: Sep 2008
Posts: 2,397
binyomilan2002  akan menjadi terkenal
Post Adolf hitler bersembunyi di Sumbawa, Indonesia?

Jika saja ada yang rajin menyimpan klipingan artikel harian “Pikiran Rakyat” sekitar tahun 1983, tentu akan menemukan tulisan dokter Sosrohusodo mengenai pengalamannya bertemu dengan seorang dokter tua asal Jerman bernama Poch di pulau Sumbawa Besar pada tahun 1960. Dokter tua itu kebetulan memimpin sebuah rumah sakit besar di pulau tersebut.

Tapi bukan karena mengupas kerja dokter Poch, jika kemudian artikel itu menarik perhatian banyak orang, bahkan komentar sinis dan cacian! Namun kesimpulan akhir artikel itulah yang membuat banyak orang mengerutkan kening. Sebab dengan beraninya Sosro mengatakan bahwa dokter tua asal Jerman yang pernah berbincang-bincang dengannya, tidak lain adalah Adolf Hitler, mantan diktator Jerman yang super terkenal karena telah membawa dunia pada Perang Dunia II!

Beberapa “bukti” diajukannya, antara lain dokter Jerman tersebut cara berjalannya sudah tidak normal lagi, kaki kirinya diseret. Tangan kirinya selalu gemetar. Kumisnya dipotong persis seperti gaya aktor Charlie Chaplin, dengan kepala plontos. Kondisi itu memang menjadi ciri khas Hitler pada masa tuanya, seperti dapat dilihat sendiri pada buku-buku yang menceritakan tentang biografi Adolf Hitler (terutama saat-saat terakhir kejayaannya), atau pengakuan Sturmbannführer Heinz Linge, bekas salah seorang pembantu dekat sang Führer. Dan masih banyak “bukti” lain yang dikemukakan oleh dokter Sosro untuk mendukung dugaannya.

Keyakinan Sosro yang dibangunnya dari sejak tahun 1990-an itu hingga kini tetap tidak berubah. Bahkan ia merasa semakin kuat setelah mendapatkan bukti lain yang mendukung ‘penemuannya’. “Semakin saya ditentang, akan semakin keras saya bekerja untuk menemukan bukti-bukti lain,” kata lelaki yang lahir pada tahun 1929 di Gundih, Jawa Tengah ini ketika ditemui di kediamannya di Bandung.

Andai saja benar dr. Poch dan istrinya adalah Hitler yang tengah melakukan pelarian bersama Eva Braun, maka ketika Sosro berbincang dengannya, pemimpin Nazi itu sudah berusia 71 tahun, sebab sejarah mencatat bahwa Adolf Hitler dilahirkan tanggal 20 April 1889. “Dokter Poch itu amat misterius. Ia tidak memiliki ijazah kedokteran secuilpun, dan sepertinya tidak menguasai masalah medis,” kata Sosro, lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang sempat bertugas di pulau Sumbawa Besar ketika masih menjadi petugas kapal rumah sakit Hope.

Sebenarnya, tumbuhnya keyakinan pada diri Sosro mengenai Hitler di pulau Sumbawa Besar bersama istrinya Eva Braun, tidaklah suatu kesengajaan. Ketika bertugas di pulau tersebut dan bertemu dengan seorang dokter tua asal Jerman, yang ada pada benak Sosro baru tahap kecurigaan saja.

Meskipun begitu, ia menyimpan beberapa catatan mengenai sejumlah “kunci” yang ternyata banyak membantu. Perhatiannya terhadap literatur tentang Hitler pun menjadi kian besar, dan setiap melihat potret tokoh tersebut, semakin yakin Sosro bahwa dialah orang tua itu, orang tua yang sama yang bertemu dengannya di sebuah pulau kecil d Indonesia!

Ketidaksengajaan itu terjadi pada tahun 1960, berarti sudah dua puluh tahun lebih ia meninggalkan pulau Sumbawa Besar.

Suatu saat, seorang keponakannya membawa majalah Zaman edisi no.15 tahun 1980. Di majalah itu terdapat artikel yang ditulis oleh Heinz Linge, bekas pembantu dekat Hitler, yang berjudul “Kisah Nyata Dari Hari-Hari Terakhir Seorang Diktator”, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Try Budi Satria.

Pada halaman 59, Linge mula-mula menceritakan mengenai bunuh diri Hitler dan Eva Braun, serta cara-cara membakar diri yang kurang masuk di akal. Kemudian Linge membeberkan keadaan Hitler pada waktu itu.

“Beberapa alinea dalam tulisan itu membuat jantung saya berdetak keras, seperti menyadarkan saya kembali. Sebab di situ ada ciri-ciri Hitler yang juga saya temukan pada diri si dokter tua Jerman. Apalagi setelah saya membaca buku biografi ‘Hitler’. Semuanya ada kesamaan,” ungkap ayah empat anak ini.

Heinz Linge menulis, “beberapa orang di Jerman mengetahui bahwa Führer sejak saat itu kalau berjalan maka dia menyeret kakinya, yaitu kaki kiri. Penglihatannya pun sudah mulai kurang terang serta rambutnya hampir sama sekali tidak tumbuh... kemudian, ketika perang semakin menghebat dan Jerman mulai terdesak, Hitler menderita kejang urat.”

Linge melanjutkan, “di samping itu, tangan kirinya pun mulai gemetar pada waktu kira-kira pertempuran di Stalingrad (1942-1943) yang tidak membawa keberuntungan bagi bangsa Jerman, dan ia mendapat kesukaran untuk mengatasi tangannya yang gemetar itu.” Pada akhir artikel, Linge menulis, “tetapi aku bersyukur bahwa mayat dan kuburan Hitler tidak pernah ditemukan.”

Lalu Sosro mengenang kembali beberapa dialog dia dengan “Hitler”, saat Sosro berkunjung ke rumah dr. Poch. Saat ditanya tentang pemerintahan Hitler, kata Sosro, dokter tua itu memujinya. Demikian pula dia menganggap bahwa tidak ada apa-apa di kamp Auschwitz, tempat ‘pembantaian’ orang-orang Yahudi yang terkenal karena banyak film propaganda Amerika yang menyebutkannya.

“Ketika saya tanya tentang kematian Hitler, dia menjawab bahwa dia tidak tahu sebab pada waktu itu seluruh kota Berlin dalam keadaan kacau balau, dan setiap orang berusaha untuk lari menyelamatkan diri masing-masing,” tutur Sosrohusodo.
Di sela-sela obrolan, dr. Poch mengeluh tentang tangannya yang gemetar. Kemudian Sosro memeriksa saraf ulnarisnya. Ternyata tidak ada kelainan, demikian pula tenggorokannya. Ketika itu, ia berkesimpulan bahwa kemungkinan “Hitler” hanya menderita parkisonisme saja, melihat usianya yang sudah lanjut.

Yang membuat Sosro terkejut, dugaannya bahwa sang dokter mungkin terkena trauma psikis ternyata diiyakan oleh dr. Poch! Ketika disusul dengan pertanyaan sejak kapan penyakit itu bersarang, Poch malah bertanya kepada istrinya dalam bahasa Jerman.

“Itu kan terjadi sewaktu tentara Jerman kalah perang di Moskow. Ketika itu Goebbels memberi tahu kamu, dan kamu memukul-mukul meja,” ucap istrinya seperti ditirukan oleh Sosro. Apakah yang dimaksud dengan Goebbels adalah Joseph Goebbels, Menteri Propaganda Jerman yang terkenal setia dan dekat dengan Hitler? Istrinya juga beberapa kali memanggil dr. Poch dengan sebutan “Dolf”, yang mungkin merupakan kependekan dari Adolf!

Setelah memperoleh cemoohan sana-sini sehubungan dengan artikelnya, tekad Sosrohusodo untuk menuntaskan masalah ini semakin menggebu. Ia mengaku bahwa kemudian memperoleh informasi dari pulau Sumbawa Besar bahwa Poch sudah meninggal di Surabaya. Beberapa waktu sebelum meninggal, istrinya pulang ke Jerman. Poch sendiri konon menikah lagi dengan nyonya S, wanita Sunda asal Bandung, karyawan di kantor pemerintahan di pulau Sumbawa Besar!

Untuk menemukan alamat nyonya S yang sudah kembali lagi ke Bandung, Sosro mengakui bukanlah hal yang mudah. Namun akhirnya ada juga orang yang memberitahu. Ternyata, ia tinggal di kawasan Babakan Ciamis! Semula nyonya S tidak begitu terbuka tentang persoalan ini. Namun karena terus dibujuk, sedikit demi sedikit mau juga nyonya S berterus terang.

Begitu juga dengan dokumen-dokumen tertulis peninggalan suaminya kemudian diserahkan kepada Sosrohusodo, termasuk foto saat pernikahan mereka, plus rebewes (SIM) milik dr. Poch yang ada cap jempolnya. Dari nyonya S diketahui bahwa dr. Poch meninggal tanggal 15 Januari 1970 pukul 19.30 pada usia 81 tahun di Rumah Sakit Karang Menjangan Surabaya akibat serangan jantung. Keesokan harinya dia dimakamkan di desa Ngagel.

Dalam salah satu dokumen tertulis, diakuinya bahwa ada yang amat menarik dan mendukung keyakinannya selama ini. Pada buku catatan ukuran saku yang sudah lusuh itu, terdapat alamat ratusan orang-orang asing yang tinggal di berbagai negara di dunia, juga coretan-coretan yang sulit dibaca. Di bagian lainnya, terdapat tulisan steno. Semuanya berbahasa Jerman. Meskipun tidak ada nama yang menunjukkan kepemilikan, tapi diyakini kalau buku itu milik suami nyonya S.

Di sampul dalam terdapat kode J.R. KepaD no.35637 dan 35638, dengan masing-masing nomor itu ditandai dengan lambang biologis laki-laki dan wanita. “Jadi kemungkinan besar, buku itu milik kedua orang tersebut, yang saya yakini sebagai Hitler dan Eva Braun,” tegasnya dengan suara yang agak parau.

Bersambung...
binyomilan2002 is offline   QUOTE
Unread 28-09-2009, 12:39 PM   #2
freeazy
kaskus addict
 
freeazy's Avatar
 
UserID: 523080
Join Date: Aug 2008
Location: losari90112
Posts: 1,603
freeazy tidak memiliki reputasi
gw baca dulu yah....

(bersambung)
freeazy is offline   QUOTE
Unread 28-09-2009, 12:39 PM   #3
binyomilan2002
kaskus addict
 
binyomilan2002's Avatar
 
UserID: 539880
Join Date: Sep 2008
Posts: 2,397
binyomilan2002  akan menjadi terkenal
sambungannya...

Negara yang tertulis pada alamat ratusan orang itu antara lain Pakistan, Tibet, Argentina, Afrika Selatan, dan Italia. Salah satu halamannya ada tulisan yang kalau diterjemahkan berarti : Organisasi Pelarian. Tuan Oppenheim pengganti nyonya Krüger. Roma, Jl. Sardegna 79a/1. Ongkos-ongkos untuk perjalanan ke Amerika Selatan (Argentina).

Lalu, ada pula satu nama dalam buku saku tersebut yang sering disebut-sebut dalam sejarah pelarian orang-orang Nazi, yaitu Prof. Dr. Draganowitch, atau ditulis pula Draganovic. Di bawah nama Draganovic tertulis Delegation Argentina da imigration Europa – Genua val albaro 38. secara terpisah di bawahnya lagi tertera tulisan Vatikan. Di halaman lain disebutkan, Draganovic Kroasia, Roma via Tomacelli 132.

Majalah Intisari terbitan bulan Oktober 1983, ketika membahas Klaus Barbie alias Klaus Altmann bekas polisi rahasia Jerman zaman Nazi, menyebutkan alamat tentang Val Albaro. Disebutkan pula bahwa Draganovic memang memiliki hubungan dekat dengan Vatikan Roma. Profesor inilah yang membantu pelarian Klaus Barbie dari Jerman ke Argentina. Pada tahun 1983 Klaus diekstradisi dari Bolivia ke Prancis, negara yang menjatuhkan hukuman mati terhadapnya pada tahun 1947.

“Masih banyak alamat dalam buku ini, yang belum seluruhnya saya ketahui relevansinya dengan gerakan Nazi. Saya juga sangat berhati-hati tentang hal ini, sebab menyangkut negara-negara lain. Saya masih harus bekerja keras menemukan semuanya. Saya yakin kalau nama-nama yang tertera dalam buku kecil ini adalah para pelarian Nazi!” tandasnya.

Mengenai tulisan steno, diakuinya kalau ia menghadapi kesulitan dalam menterjemahkannya ke dalam bahasa atau tulisan biasa. Ketika meminta bantuan ke penerbit buku steno di Jerman, diperoleh jawaban bahwa steno yang dilampirkan dalam surat itu adalah steno Jerman “kuno” sistem Gabelsberger dan sudah lebih dari 60 tahun tidak digunakan lagi sehingga sulit untuk diterjemahkan.

Tetapi penerbit berjanji akan mencarikan orang yang ahli pada steno Gabelsberger. Beberapa waktu lamanya, datang jawaban dari Jerman dengan terjemahan steno ke dalam bahasa Jerman. Sosrohusodo menterjemahkannya kembali ke dalam bahasa Indonesia. Judul catatan dalam bentuk steno itu, kurang lebih berarti “keterangan singkat tentang pengejaran perorangan oleh Sekutu dan penguasa setempat pada tahun 1946 di Salzburg”. Kota ini terdapat di Austria.

Di dalamnya berkisah tentang “kami berdua, istri saya dan saya pada tahun 1945 di Salzburg”. Tidak disebutkan siapakah ‘kami berdua’ di situ. Dua insan tersebut, kata catatan itu, dikejar-kejar antara lain oleh CIC (dinas rahasia Amerika Serikat). Pada pokoknya, menggambarkan penderitaan sepasang manusia yang dikejar-kejar oleh pihak keamanan.

Di dalamnya juga terdapat singkatan-singkatan yang ditulis oleh huruf besar, yang kalau diurut akan menunjukkan rute pelarian keduanya, yaitu B, S, G, J, B, S, R. “Cara menyingkat seperti ini merupakan kebiasaan Hitler dalam membuat catatan, seperti yang pernah saya baca dalam literatur yang lainnya,” Sosrohusodo memberikan alasan.

Dari singkatan-singkatan itu, lalu Sosro mencoba untuk mengartikannya, yang kemudian dikaitkan dengan rute pelarian. Pelarian dimulai dari B yang berarti Berlin, lalu S (Salzburg), G (Graz), J (Jugoslavia), B (Beograd), S (Sarajevo) dan R (Roma). Tentang Roma, Sosro menjelaskan bahwa itu adalah kota terakhir di Eropa yang menjadi tempat pelariannya. Setelah itu mereka keluar dari benua tersebut menuju ke suatu tempat, yang tidak lain tidak bukan adalah pulau Sumbawa Besar di Nusantara tercinta!

Ia mengutip salah satu tulisan dalam steno tadi : “Pada hari pertama di bulan Desember, kami harus pergi ke R untuk menerima suatu surat paspor, dan kemudian kami berhasil meninggalkan Eropa”. Ini, kata Sosro, sesuai dengan data pada paspor dr. Poch yang menyebutkan bahwa paspor bernomor 2624/51 diberikan di Rom (tanpa huruf akhir A)”. Di buku catatan berisi ratusan alamat itu, nama Dragonic dikaitkan dengan Roma, begitulah Sosro memberikan alasan lainnya.

Lalu mengenai Berlin dan Salzburg, diterangkannya dengan mengutip majalah Zaman edisi 14 Mei 1984. Dikatakan bahwa sejarah telah mencatat peristiwa jatuhnya pesawat yang membawa surat-surat rahasia Hitler yang jatuh di sekitar Jerman Timur pada tahun 1945. “Ini juga menunjukkan rute pelarian mereka,” katanya lagi.

Lalu bagaimana komentar nyonya S yang disebut-sebut Sosro sebagai istri kedua dr. Poch? Konon ia pernah berterus terang kepada Sosro. Suatu hari suaminya mencukur kumis mirip kumis Hitler, kemudian nyonya S mempertanyakannya, yang kemudian diiyakan bahwa dirinya adalah Hitler. “Tapi jangan bilang sama siapa-siapa,” begitu Sosro mengutip ucapan nyonya S.

Membaca dan menyimak ulasan dr. Sosrohusodo, sekilas seperti ada saling kait mengkait antara satu dengan yang lainnya. Namun masih banyak pertanyaan yang harus diajukan kepada Sosro, dengan tidak bermaksud meremehkan pendapat pribadinya berkaitan dengan Hitler, sebab mengemukakan pendapat adalah hak setiap warga negara.

Bahkan Sosrohusodo sudah membuat semacam diktat yang memaparkan pendapatnya tentang Hitler, dilengkapi dengan sejumlah foto yang didapatnya dari nyonya S. Selain itu, isinya juga mengisahkan tentang pengalaman sejak dia lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia hingga bertugas di Bima, Kupang, dan Sumbawa Besar. Ia juga telah mengajukan hasil karyanya ke berbagai pihak, namun belum ada tanggapan. “Padahal tidak ada maksud apa-apa di balik kerja saya ini, hanya ingin menunjukkan bahwa Hitler mati di Indonesia,” katanya mantap.

Bukan hanya Sosro yang mempunyai teori tentang pelarian Hitler dari Jerman ke tempat lain, tapi beberapa orang di dunia ini pernah mengungkapkannya dalam media massa. Peluang untuk berteori seperti itu memang ada, sebab ketika pemimpin Nazi tersebut diduga mati bersama Eva Braun tahun 1945, tidak ditemukan bukti utama berupa jenazah!

Adalah tugas para pakar dalam bidang ini untuk mencoba mengungkap segala sesuatunya, termasuk keabsahan dokumen yang dimiliki oleh Sosrohusodo, nyonya S, atau makam di Ngagel yang disebut sebagai tempat bersemayamnya dr. Poch.

Mungkin para ahli forensik dapat menjelaskannya lewat penelitian terhadap tulang-tulang jenazahnya. Semua itu tentu berpulang pada kemauan baik semua pihak...

Sumber : klipingan artikel harian “Pikiran Rakyat” sekitar tahun 1983.
binyomilan2002 is offline   QUOTE
Sponsored Links
Unread 28-09-2009, 12:40 PM   #4
~²Bhaltazare²~
kaskuser
 
~²Bhaltazare²~'s Avatar
 
UserID: 1038348
Join Date: Aug 2009
Location: in Leah Dizon's heart...
Posts: 414
~²Bhaltazare²~ tidak memiliki reputasi
Huft akhir ny selse jg baca ny....


Wah klo d liat dari bukti2 yg d dapetin sama sosrohusodo nih,, kliatan ny bner klo si hitler lari ke sumbawa....

hmm,, jd yg bner dy mati bunuh diri ato mati d karang menjangan ya ??




Luph U 4ever
Leah Dizon

Last edited by ~²Bhaltazare²~; 28-09-2009 at 12:50 PM..
~²Bhaltazare²~ is offline   QUOTE
Unread 28-09-2009, 12:40 PM   #5
dath
kaskus addict
 
dath's Avatar
 
UserID: 485834
Join Date: Jun 2008
Location: behind those lenses
Posts: 3,140
dath  sedang di jalan yg benar
waduh beneran hitler tuh
kok bisa nyasar di Sumbawa
dath is offline   QUOTE
Unread 28-09-2009, 12:43 PM   #6
ikan_peda
kaskus addict
 
ikan_peda's Avatar
 
UserID: 612187
Join Date: Dec 2008
Posts: 2,138
ikan_peda tidak memiliki reputasi
serius GAN ?
ikan_peda is offline   QUOTE
Unread 28-09-2009, 12:43 PM   #7
cie..cie..cie..
kaskus addict
 
cie..cie..cie..'s Avatar
 
UserID: 1094291
Join Date: Sep 2009
Posts: 2,379
cie..cie..cie.. tidak memiliki reputasi
wahh panjang juga gan..
ane baca dulu yahh
cie..cie..cie.. is offline   QUOTE
Unread 28-09-2009, 12:44 PM   #8
caligulaz
kaskus addict
 
caligulaz's Avatar
 
UserID: 494536
Join Date: Jun 2008
Posts: 1,930
caligulaz tidak memiliki reputasi
panjang dan repost
caligulaz is offline   QUOTE
Unread 28-09-2009, 12:45 PM   #9
MyFaveArtist
kaskuser
 
MyFaveArtist's Avatar
 
UserID: 1035636
Join Date: Aug 2009
Location: Studio
Posts: 165
MyFaveArtist  sedang di jalan yg benar
hitler emang menarik bwt disimak..

tapi tulisan nya kepanjangan gan.. males nyimak

baca dulu
MyFaveArtist is offline   QUOTE
Unread 28-09-2009, 12:45 PM   #10
koncrot [$]
Kaskus Donator
 
koncrot's Avatar
 
UserID: 844503
Join Date: May 2009
Location: Pekanbaru kota berkuah
Posts: 2,198
koncrot tidak memiliki reputasi
jauh banget larinya gan
sampe sumbawa

:nais inpo dah gan

koncrot is offline   QUOTE
Unread 28-09-2009, 12:46 PM   #11
malespakenick
kaskus addict
 
malespakenick's Avatar
 
UserID: 493174
Join Date: Jun 2008
Location: di JALAN yg BENAR
Posts: 2,028
malespakenick  sedang di jalan yg benar
emank iya?
malespakenick is offline   QUOTE
Unread 28-09-2009, 12:48 PM   #12
yang_terganteng
aktivis kaskus
 
UserID: 408232
Join Date: Feb 2008
Posts: 562
yang_terganteng tidak memiliki reputasi
wah...kalo beneran gimana yah ?????
yang_terganteng is offline   QUOTE
Unread 28-09-2009, 12:49 PM   #13
- Val -
kaskus maniac
 
- Val -'s Avatar
 
UserID: 1043561
Join Date: Aug 2009
Location: Nubitol blajar ngaskus :D
Posts: 7,348
Blog Entries: 2
- Val -  akan menjadi terkenal
Oalah, mata gw berputar putar, panjang tp nice gan




- Val - is offline   QUOTE
Unread 28-09-2009, 12:49 PM   #14
gendeL
kaskuser
 
gendeL's Avatar
 
UserID: 1100996
Join Date: Sep 2009
Posts: 310
gendeL tidak memiliki reputasi
masa sih ga???
tapi saia pernah baca nih kutipan d suatu blog jg
copas nehh...


LUMAYAN NIMBRUNG DI PAGE ONE
gendeL is offline   QUOTE
Unread 28-09-2009, 12:51 PM   #15
koetoe_koempret
aktivis kaskus
 
koetoe_koempret's Avatar
 
UserID: 110792
Join Date: Oct 2005
Posts: 672
koetoe_koempret tidak memiliki reputasi
huah...cuapek mbacanya gan...but nice inpoh...
koetoe_koempret is offline   QUOTE
Unread 28-09-2009, 01:01 PM   #16
allianzer
kaskus holic
 
allianzer's Avatar
 
UserID: 1039096
Join Date: Aug 2009
Location: jabodetabek
Posts: 969
allianzer tidak memiliki reputasi
masa sih??!!
teori aja kali gan..
tp klo beneran,patut d analisa lg tuh..
perdalam..
mantap gan..

allianzer is offline   QUOTE
Unread 28-09-2009, 01:01 PM   #17
satanstate
kaskus addict
 
satanstate's Avatar
 
UserID: 945655
Join Date: Jun 2009
Location: Lounge-FJB
Posts: 2,077
satanstate tidak memiliki reputasi
yg bner ni gan?
satanstate is offline   QUOTE
Unread 28-09-2009, 01:07 PM   #18
BalalangMerah82
kaskus addict
 
BalalangMerah82's Avatar
 
UserID: 1108951
Join Date: Sep 2009
Location: posts : 8117
Posts: 2,023
BalalangMerah82 tidak memiliki reputasi
hmmm...............

patut dipertanyakan...
BalalangMerah82 is offline   QUOTE
Unread 28-09-2009, 01:11 PM   #19
fullymoony
kaskus addict
 
fullymoony's Avatar
 
UserID: 886113
Join Date: May 2009
Location: BANDUNG inspiring city
Posts: 2,166
fullymoony tidak memiliki reputasi
baru kemarn ada yang posting ini..
atau ini yang kemarin yah? isinya sama banget soalnya.hehehe
fullymoony is offline   QUOTE
Unread 28-09-2009, 01:44 PM   #20
parco
kaskus holic
 
parco's Avatar
 
UserID: 552189
Join Date: Sep 2008
Posts: 825
parco tidak memiliki reputasi
selesai juga bacanya ni...!!!!!!!!!!!
parco is offline   QUOTE
Reply

Thread Tools



.